MUI Sebut Salam Lintas Agama Bukan Moderenisasi Lintas Agama

Mediarilisnusantara.com – Menurut KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua MUI Bidang Fatwa, masalah salam lintas agama, termasuk ibadah atau muamalah, harus dipertimbangkan. Salam lintas agama, serta hari raya kepada agama lain, selalu menjadi perdebatan yang tidak kunjung terselesaikan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

“Apakah itu berkaitan dengan masalah ibadah atau hanya masalah muamalah, maka harus ada ikhtiyat, jika muamalah mengoptimalkan pertimbangan kemaslahatan, atau jangan-jangan ini campuran (campuran) antara ibadah dan muamalah?” Dalam Pra Ijtima Komisi Fatwa se-Indonesia di Aula Kantor Pusat Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyatakan hal ini.

Pengucapan salam adalah doa yang bersifat ubudiah. menurut beliau mengucapkan salam tidak boleh dicampur dengan salam agama lain, tetapi harus mengikuti ketentuan syariat Islam.



Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Sumatra barat, akibatnya Puluhan orang Tewas

1. Prinsip Hubungan Antar Umat Beragama

  1. Prinsip dasar hubungan antar umat beragama dalam Islam adalah sebagai berikut:
  • Islam menghormati pemeluk agama lain dan menjamin kebebasan umat beragama dalam menjalankan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya dengan prinsip toleransi (al-tasamuh), sesuai dengan tuntunan al-Quran “lakum dinukum wa liyadin” (untukmu agamamu dan untukku agamaku), tanpa mencampuradukkan ajaran agama (sinkretisme).
  • Dalam masalah muamalah, perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk terus menjalin kerja sama (al-ta’awun) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara harmonis, rukun dan damai.
  1. Umat Islam tidak boleh mengolok-olok, mencela dan/atau merendahkan ajaran agama lain (al-istihza`).
  2. Antarumat beragama tidak boleh mencampuri dan/atau mencampuradukkan ajaran agama lain.





Baca Juga: Aneh Tapi Nyata Korea Utara dan Selatan Perang Sampah dengan Balon

2. Fikih Salam Lintas Agama

  1. Penggabungan ajaran berbagai agama termasuk pengucapan salam dengan menyertakan salam lintas agama dengan alasan toleransi dan/atau moderasi beragama bukanlah makna toleransi yang dibenarkan.
  2. Dalam Islam, pengucapan salam merupakan doa yang bersifat ubudiah, karenanya harus mengikuti ketentuan syariat Islam dan tidak boleh dicampuradukkan dengan ucapan salam dari agama lain.
  3. Pengucapan salam yang berdimensi doa khusus agama lain oleh umat Islam hukumnya haram.
  4. Pengucapan salam dengan cara menyertakan salam berbagai agama bukan merupakan implementasi dari toleransi dan/atau moderasi beragama yang dibenarkan.
  5. Dalam forum yang terdiri atas umat Islam dan umat beragama lain, umat Islam dibolehkan mengucapkan salam dengan Assalamu’alaikum dan/atau salam nasional atau salam lainnya yang tidak mencampuradukkan dengan salam doa agama lain, seperti selamat pagi.




Baca Juga: Serangan Gedung Konser Moskow, Tewaskan 133 Orang

3. Fikih Toleransi dalam Perayaan Hari Raya Agama Lain

  1. Setiap agama memiliki hari raya sebagai hari besar keagamaan yang biasanya disambut dengan perayaan oleh penganutnya.
  2. Setiap umat Islam harus menjalankan toleransi dengan memberikan kesempatan kepada umat agama lain yang sedang merayakan ritual ibadah dan perayaan hari besar mereka. Bentuk toleransi beragama adalah:
  • Dalam hal akidah, memberikan kebebasan kepada umat agama lain untuk melaksanakan ibadah hari raya sesuai keyakinannya dan tidak menghalangi pelaksanaannya.
  • Dalam hal muamalah, bekerja sama secara harmonis serta bekerja sama dalam hal urusan sosial bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  1. Toleransi umat beragama harus dilakukan selama tidak masuk ke dalam ranah akidah, ibadah ritual dan upacara-upacara keagamaan, seperti: mengucapkan selamat hari raya agama lain, menggunakan atribut hari raya agama lain, memaksakan untuk mengucapkan atau melakukan perayaan agama lain atau tindakan yang tidak bisa diterima oleh umat beragama secara umum.
  2. Beberapa tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam angka nomor 3 dianggap sebagai mencampuradukkan ajaran agama.




Baca Juga: Membuat kaget! Zee JKT48 Mengumumkan graduate Dari JKT48

Sebelum sidang pleno terakhir berakhir, Prof. Dr. Asrorun Niam Sholeh, MA, Ketua SC dan Ketua MUI Bidang Fatwa, membacakan hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia.

654 peserta menghadiri Ijtima Ulama, yang terdiri dari pimpinan lembaga fatwa Ormas Islam Tingkat Pusat, pimpinan Komisi Fatwa MUI Indonesia, pimpinan pesantren tinggi ilmu-ilmu fikih, pimpinan fakultas Syariah perguruan tinggi ke-Islaman, perwakilan lembaga fatwa negara ASEAN dan Timur Tengah seperti Qatar, dan para peneliti.

Acara ini dibuka oleh Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin. Hadir memberikan materi pengayaan terkait tema pembahasan Ijtima antara lain Ketua BAZNAS Prof Noor Ahmad, Kepala BPKH Fadlul Imansyah, Dirjen Pengelolaan Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama RI Prof Hilman Latief, Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI Bidang Hubungan Antar Lembaga Muhsin Syihab, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 KH Jusuf Kalla serta Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid.



(Reza)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *