Kasus Kematian Afif Maulana Diduga Wafat Dianiaya Oknum Polisi

Mediarilisnusantara.com – Pelajar yang dikenal dengan nama Afif Maulana atau AM (13) telah ditemukan meninggal dunia di Sungai Batang Kuranji, Padang, Sumatera Barat pada hari Minggu, 9 Juni 2024.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kematian Afif Maulana, seorang bocah berusia 13 tahun di Padang, Sumatera Barat, telah menarik perhatian publik.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menduga bahwa AM meninggal dunia karena diduga dianiaya oleh anggota polisi.

Baca Juga: Pusat Data Nasional Di Bobol, Hacker Minta Tebusan Rp131 Miliar



Indira Suryani, Direktur LBH Padang, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi terhadap kasus tersebut dan menemukan adanya tanda-tanda penganiayaan sebelum AM meninggal dunia.

“Di seluruh tubuh korban terdapat luka-luka lebam yang diduga akibat penganiayaan,” ujar Indira seperti yang dilansir dari Kompas.com, pada hari Sabtu (22/6/2024).

Kepolisian menegaskan bahwa Afif tidak disiksa oleh anggota polisi sebelum meninggal di tengah pemeriksaan 39 personil yang terlibat dalam insiden pembubaran tawuran.

Kematian Afif Maulana
Kapolda Sumatra Barat Irjen Suharyono jumpa pers menjelaskan penyebab kematian bocah 13 tahun Afif Maulana. (HALBERT CHANIAGO – BBC NEWS)

Baca Juga: Lebanon Akui Keadaan Perang Akibat Serangan yang di Luncurkan Israel



Namun, pandangan ini berbeda dengan pendapat tim advokat LBH Padang dan pihak keluarga korban yang yakin bahwa Afif mengalami penyiksaan sebelum meninggal.

Menurut laporan BBC news, Kamis (27/06), kepolisian Sumatra Barat melaporkan bahwa 17 anggota polisi diduga melanggar prosedur standar operasi atau SOP dalam penangkapan belasan anak dan pemuda dalam insiden pembubaran tawuran.

KontraS mencatat bahwa dalam tiga tahun terakhir, telah terjadi lebih dari 600 kasus kekerasan dan penyiksaan oleh anggota polisi.

Baca Juga: Virus Mpox Di Kongo, Disebut Sebagai Yang Paling Berbahaya

Mereka berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh budaya kekerasan yang terjadi di kepolisian dan termanifestasi dalam tugas-tugas polisi di lapangan, serta pengawasan yang lemah.

Kasus dugaan penyiksaan yang terus menerus oleh anggota polisi juga telah mendorong wacana pemasangan kamera pada personil kepolisian saat menjalani tugas.


Kematian Afif Maulana
Afrinaldi (36, kanan) dan Anggun (32) berfoto dengan potret Afif Maulana (13), di kantor LBH Padang, Kota Padang, Sumatera Barat. (DOK. LBH PADANG)

 

Kronologi Kematian Afif Maulana (AM)

Indira menjelaskan bahwa pada saat kejadian, AM dan A sedang berkendara dengan sepeda motor melintasi Jembatan Batang Kuranji pada hari Minggu (9/6/2024) pukul 04.00 WIB.

“Ketika petugas polisi mendekat, dia menendang kendaraan korban. AM terlempar ke sisi jalan. Ketika terlempar, korban berjarak sekitar dua meter dari rekan korban A,” ungkap Indira.

Baca Juga: Viral Bule Denmark Perbaiki Jembatan Rusak, Kades Wakatobi Kecewa



Menurut keterangan A, AM berdiri dikepung oleh sejumlah polisi dengan rotan. A kemudian dibawa oleh polisi lain dan dipisahkan dari AM. A tidak mengetahui keberadaan AM setelahnya hingga ditemukan tewas di sungai.

Indira menyatakan bahwa dari luka lebam yang ditemukan di tubuh AM, dugaan terberatnya adalah bahwa AM telah dianiaya sebelum meninggal.

Kematian Afif Maulana

Kejanggalan Kematian Afif Maulana (AM)

Indira menyatakan bahwa dia belum menerima hasil otopsi Afif, meskipun Kepala Polda Sumatera Barat Inspektur Jenderal Suharyono telah berjanji untuk memberikan salinan hasil otopsi Afif dan rekaman kamera pemantau (CCTV).

Saat ini, LBH Padang juga sedang menyiapkan tim audit karena diduga ada proses penghilangan atau pengaburan fakta-fakta yang terjadi.

Sebelumnya, pada Minggu (30/6/2024), Suharyono mengatakan bahwa rekaman CCTV di Polsek Kuranji ada dan tidak rusak.

Baca Juga: Kasus ODGJ Mutilasi ODGJ Hebohkan Garut



Namun, kapasitas penyimpanan hard disk digital video recorder (DVR) CCTV hanya 1 Terabyte dan data hanya bertahan 11 hari setelah kejadian terekam. Lebih dari 11 hari, data terhapus otomatis atau tertimpa oleh data baru.

Data terakhir yang bisa diambil adalah tanggal 13 Juni atau hari keempat setelah kejadian. Dalam kesempatan yang sama, ibu Afif, Anggun, meminta agar kasus ini diusut tuntas demi keadilan untuk Afif.

Ia menegaskan bahwa Afif tidak pernah ikut tawuran. Ayah Afif, Afrinaldi, meyakini anaknya tidak melompat dari jembatan karena tidak ada tanda-tanda jatuh dari tempat yang tinggi di tubuh Afif.

Kematian Afif Maulana
Sumber: Instagram @tfrnews



Kapolda Sumbar Dikritik Usai Cari Orang yang Viralkan Kematian Afif Maulana

Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono dalam Konferensi Pers di Polresta Padang pada Minggu 23 Juni 2024 mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengejar pelaku yang menyebarkan kasus AM di media sosial.

Hal ini dikarenakan aksi tersebut telah memicu opini publik yang tidak benar. Dia menegaskan bahwa tindakan tersebut juga dapat dianggap sebagai trial by the press dan dapat dikenakan Undang-undang ITE.

Baca Juga: Kasus ODGJ Mutilasi ODGJ Hebohkan Garut

Selain itu, Kapolda Sumbar juga menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mengejar pelaku yang menyebarkan kasus AM di media sosial, namun akan dilakukan setelah penyelesaian kasus utama terkait AM bocah 13 tahun.

Menurutnya, pihaknya masih fokus pada penyelidikan kasus tersebut dan akan menyelesaikan kasus utama terlebih dahulu sebelum menindaklanjuti kasus viral tersebut.

(Reza)



Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *