Gabungan Kiai dan Ustaz Pesantren Modern se-Indonesia Mendeklarasikan Dukungan Kepada Ganjar-Mahfud untuk Pilpres 2024

Jakarta,MRN – Sekitar 70 orang kiai dan ustaz gabungan dari berbagai alumni pesantren modern dan tradisionalis di Indonesia yang berhimpun dalam Relawan Santri Spartan mendeklarasikan dukungan mereka untuk kemenangan pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, untuk ajang Pemilihan Presiden 14 Februari 2024 nanti. Deklarasi dilangsungkan di pelataran Beranda Politik, bilangan Utan Kayu, Jakarta, pada Rabu, 15 November 2023.



“Setelah mengamati, mencermati dan merenungkan situasi perpolitikan nasional menjelang Pilpres 2024, kami Relawan Santri Spartan berketetapan hati dan sudah mantap dalam mendukung Ganjar-Mahfud untuk memenangkan Pilpres 2024,” jelas KH. Budi Firmansyah, pembina Relawan Santri Spartan yang merupakan salah seorang alumnus Pesantren Gontor. KH. Budi mengaku hakkul yakin bahwa bersama Ganjar-Mahfud, Indonesia akan lebih kuat dan lebih cepat maju secara ekonomi, berkeadilan secara hukum, dan tidak terjatuh ke jurang otoritarianisme dan penyelewengan politik untuk kepentingan keluarga dan golongan tertentu.

“Setidaknya ada 3 alasan kenapa kami mantap mendukung pasangan ini berdasarkan perenungan kami atas tradisi kaum santri. Pertama karena alasan suluk, aspek perilaku atau etiket kedua pasangan ini. Bagi kami, Ganjar-Mahfud adalah pasangan yang paling baik suluk-nya di antara pasangan-pasangan lain. Alasan kedua adalah karena faktor nazofah atau kebersihan. Bagi kami, keduanya adalah sosok-sosok yang bersih secara personal maupun tatkala menjalankan amanat kepemimpinan di dalam pemerintahan. Alasan ketiga adalah alasan muwazobah alias ketekunan dan pengalaman nyata di berbagai jenjang karir politik mereka. Mereka adalah sosok-sosok yang sangat berpengalaman, berprestasi, tuntas dan husnul khatimah dalam menjalankan amanat!” demikian penjelasan Kiai Budi.

Baca juga WAKIL KETUA UMUM PROPAS ALDRIAN Soal Pencalonan Gibran Digugat: Keputusan MK Final-Mengikat

Lebih lanjut Relawan Santri Spartan juga menjabarkan bahwa secara bibit, bebet dan bobot, pasangan Ganjar-Mahfud dapat pula dianggap pasangan paling sempurna. “Pak Ganjar adalah seorang nasionalis sekaligus santri. Dia bahkan dapat dipanggil Gus Ganjar karena menikah dengan Ibu Siti Atiqoh Supriyanti, puteri seorang kiai besar dari Purbalingga. Sementara Pak Mahfud sendiri adalah sosok santri nasionalis par excellent yang alim, baik di dalam ilmu hukum maupun dalam ilmu agama. Coba Anda cek pasangan lain, pasti ada saja cacatnya. Salah seorangn dari mereka mungkin bahkan tak pandai sholat dan menjalankan ritual-ritual agama yang paling sederhana. Kita juga menyaksikan sosok yang sangat ambisius sehingga terkesan hanya ingin mengejar kekuasaan secepat mungkin,” demikian uraian KH. Ule Suparman, seorang kiai NU dari Bandung.

KH. Ule lebih lanjut juga menjelaskan pentingnya menghubungkan kriteria suluk, nazofah dan muwazobah dalam khazanah dan pengalaman kaum santri ketika memilih pemimpin negara. “Anda boleh sepintar Einstein, sehebat Putin, atau anak Presiden. Tapi kalau nilai anda rendah dalam salah satu dari ketiga kategori tersebut ketika nyantri di sebuah pesantren, Anda tidak akan naik kelas!” tegas KH Ule.



Dengan kriteria dan tiga alasan tersebut, Ketua Relawan Santri Spartan, Gus Afthon Lubbi Nuriz menyatakan bahwa Santri Spartan akan melakukan ikhtiar terbaik dan akan senantiasa terbuka menyambut berbagai pihak yang ingin terlibat dalam pemenangan Ganjar-Mahfud. “Kami sengaja menamakan diri kami Relawan Santri Spartan, karena kami tak hanya militan, bahkan spartan. Kami sangat yakin bahwa pasangan yang kami dukung adalah pasangan yang paling maslahat dan paling logis bagi Indonesia. Kami tak gentar dengan pasangan yang didukung penuh oleh kekuasaan ataupun yang sangat berkelimpahan secara logistik. Bagi kami, ini adalah perjuangan nilai dan perjuangan etis untuk perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami tak ingin nilai-nilai luhur dan sendi-sendi penting kita dalam berbangsa dan bernegara terkoyak, retak, dan diinjak-injak.”

(Redaksi)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *