Diskusi UN Moment and Green Welfare Tentang Kesetaraan Gender dan perubahan iklim

Jakarta,MRN – UN Moment and Green Welfare mengadakan Diskusi tentang Kesetaraan Gender dan perubahan iklim dengan tema “EmpowerHer Dialogue : Women Leading The Triple E (Energy, Education, Economy), Green Revolution” di Creative Hall M Block Jakarta pada hari Sabtu, 22 Juni 2024.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Dalam acara Dialogue EmpowerHer, terdapat Keynote Speech dan narasumber yang dihadirkan, yaitu:
1. Eko Novi, Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender bidang Sosial Budaya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
2. Ida Nuryatin, Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.
3. Nala Amirah, Pendiri Green Welfare Indonesia.
4. Dwi Faiz, Country Representative OiC UN Women Indonesia.
5. Zagy Berian, Pendiri SRE Indonesia.
6. Ary Okta, Direktur Program Sekolah Citra Alam.
7. Khoiria Oktaviani, Koordinator Komunikasi dan Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM.
8. Nifa Rahma, Ketua Green Welfare Indonesia.
9. Yasmina Hasni, Edukator, Pendiri Peri Bumi dan Rootslearning Centre.
10. Amalia Widyasanti, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Bappenas.
11. Andhyta F. Utami, Pendiri & CEO Think Policy.
12. Samira Shihab, Kepala Sekolah, Kepala Value Creation AC Ventures.



Baca juga Aturan Baru, Rumah NJOP di Bawah Rp 2 Miliar Kena Pajak

Zagy Berian, sebagai Pendiri SRE Indonesia, dalam pertemuan dengan Media Online, mengungkapkan bahwa kami berharap agar generasi muda ini dapat bergerak dengan cepat dalam melakukan sesuatu, di mana mereka lebih mengutamakan hasil atau output yang lebih baik.

Oleh karena itu, dengan adanya kegiatan seperti ini, dapat menjadi pemicu bagi generasi muda untuk dapat berkolaborasi lebih banyak. Tanpa adanya kegiatan ini, kolaborasi dengan Pemerintah menjadi sulit dan berdiskusi dengan komunitas lain juga menjadi sulit.

Oleh karena itu, kami berharap hal-hal ini dapat membantu dalam membangun jaringan termasuk dalam berkolaborasi dengan berbagai macam komunitas. Untuk memiliki program, harus melalui lintas komunitas dan tidak dapat dilakukan sendiri, terutama jika komunitasnya masih baru.




Baca juga PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk Capai Κenaikan Pendapatan Lebih Dari 20%

Sementara itu, komunitas kami sendiri telah berjalan selama 5 tahun dan telah memiliki portofolio yang cukup baik serta mendapatkan kepercayaan dari institusi.

Zagy Berian, berharap agar Pemerintah dapat bekerja sama untuk menciptakan program yang bermanfaat bagi masyarakat dan dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sangat penting mengingat Indonesia memiliki 17 ribu pulau, sehingga sulit bagi anak muda untuk mengakses daerah-daerah terpencil.

Umumnya, kami memulai dengan membina komunitas-komunitas yang baru terbentuk dan kemudian mengintegrasikannya ke dalam jaringan kami.



Baca juga Mutasi ASN Hal Biasa dalam Pengembangan Karier

Dari sana, kami berusaha mengajarkan cara melihat suatu permasalahan dan mengubahnya menjadi program nyata. Selanjutnya, kami bekerja sama dengan pemerintah, perusahaan, dan lembaga internasional lainnya untuk mendorong kegiatan bersama.

Saat ini, banyak teman-teman yang masih muda menghadapi kendala karena mereka masih bersekolah dan memiliki waktu yang terbatas. Oleh karena itu, kita yang sudah memiliki kegiatan penuh waktu harus dapat mengatur waktu untuk membantu mereka.

Misalnya, jika mereka memiliki waktu satu minggu, kita akan mencari proyek yang memiliki tenggat waktu satu minggu, satu bulan, atau enam bulan, dan kita akan mencoba untuk mengoptimalkan penggunaan waktu dalam hal ini.




Baca juga Dialog “EmpowerHER” Menyoroti Kepemimpinan Perempuan Dalam Perubahan Iklim

SRE (Society of Renewable Energy) merupakan organisasi yang berfokus pada energi terbarukan dengan tujuan memberikan akses energi ke daerah-daerah tertentu dan juga membantu program CSR perusahaan.

Sebagai implementor, kami tidak hanya merancang program-program tersebut, tetapi juga berkolaborasi dengan Pemerintah untuk menentukan daerah mana yang menjadi prioritas saat ini. Kami berusaha untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan dalam upaya membantu daerah tersebut.

Kami telah berhasil memasang PLTS di 100 lokasi, dimana setiap lokasi tersebut memiliki rata-rata 3 komunitas yang kami bina.

Saat ini, kami telah berhasil membina lebih dari 300 komunitas. Proses pembinaan ini dilakukan bersama-sama dengan perusahaan, yang menyediakan program CSR untuk mendukung upaya kami. Sebaliknya, perusahaan juga membutuhkan bantuan dari kami agar dapat berkolaborasi dengan efektif.



Baca juga Sambut HUT Ke-497 Jakarta, MRT Dan LRT Cuma Rp 1, Berlaku Mulai Hari Ini

“Jadi kuncinya, anak-anak muda itu sebagai jembatan dari semua institusi yang ada di sektor energi dan lingkungan ini. Mereka sangat berterimakasih ke teman-teman yang masih muda ini.”

“Begitu juga, mereka juga ingin kita lebih lama bersama mereka. Itulah yang menjadi feedback yang sedang kita coba tanganin sehingga kita coba kawinkan dengan program Kemendikbud yang yaitu Merdeka Belajar.”

“Sedangkan dari program Merdeka Belajar ini, teman-teman yang join di komunitas kami selama 6 bulan itu bisa datang ke lokasi dan dikonversi menjadi 20 SKS.”

“Kalau kreativitas anak muda itu menurut saya, jangan selalu mikir yang besar untuk melangkah di awal, karena kalau udah mikir terlalu besar, biasanya hanya ada di level desain saja,” tutupnya.



(Rudi)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *