Boeing Mengaku Bersalah Terkait Kecelakaan Lion Air pada 2018

Jakarta, MRN – Boeing salah satu produsen pesawat terbesar di dunia, telah dipanggil oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) setelah mengakui kesalahannya dalam kecelakaan tragis yang melibatkan dua pesawat jenis 737 Max.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kecelakaan tersebut terjadi pada tahun 2018 dan 2019, masing-masing melibatkan maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines, yang menewaskan total 346 orang.

Departemen Kehakiman AS menyatakan bahwa Boeing telah setuju untuk membayar denda pidana sebesar 243,6 juta dollar AS (sekitar Rp 3,97 triliun).



Baca Juga: Ditemukan Jasad Bayi Membusuk di Dalam Tas Dekat Sungai Desa Jimbe, Blitar

Meskipun demikian, keluarga korban kecelakaan maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines mengkritik kesepakatan ini sebagai kesepakatan manis yang memungkinkan Boeing menghindari tanggung jawab penuh atas dua insiden tersebut.

Juru bicara Pentagon, Mayor Jenderal Angkatan Udara Patrick Ryder, mengumumkan bahwa pihaknya akan mengevaluasi dampak dari pengakuan bersalah Boeing terhadap kontrak-kontrak yang ada.

“DOD akan menilai rencana remediasi perusahaan dan kesepakatan dengan Departemen Kehakiman untuk menentukan langkah yang diperlukan dan tepat untuk melindungi pemerintah federal,” ujar Ryder, seperti yang dilaporkan oleh Reuters pada hari Selasa (9/8/2024).

Boeing
Puing-puing pesawat penumpang Lion Air yang jatuh di Indonesia pada 2018. (AP Photo/Tatan Syuflana)




Baca Juga: Dari Tuduhan Pembunuhan Pegi Setiawan Kini jadi Presenter

Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, pemerintah AS dan Boeing saat ini sedang berdiskusi mengenai dampak dari pengakuan bersalah ini terhadap kontrak-kontrak pemerintah yang dimiliki Boeing.

Kondisi ini berpotensi mengganggu kontrak Boeing dengan pemerintah AS. Namun, rincian akhir dari kesepakatan ini diharapkan akan diajukan pada 19 Juli.

Paul Cassell, seorang pengacara yang mewakili beberapa keluarga korban, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak mengakui bahwa 346 orang tewas akibat konspirasi Boeing.



Baca Juga: Laporan Terbaru Kasus Jurnalis Tribrata TV yang Wafat Setelah Buat Artikel Perjudian

Ia menegaskan bahwa melalui perjanjian hukum yang licik antara Boeing dan Departemen Kehakiman AS, konsekuensi mematikan dari kejahatan Boeing disembunyikan.

Dalam surat yang ditujukan kepada pemerintah pada bulan Juni, Cassell menekankan perlunya Departemen Kehakiman AS untuk memberikan denda kepada Boeing sebesar lebih dari US$24 miliar (Rp391,2 triliun).

Zipporah Kuria, yang kehilangan ayahnya, Joseph, dalam salah satu kecelakaan fatal tersebut menyatakan bahwa pembelaan itu adalah “kekejian yang mengerikan.”




Baca Juga: Kemenkes Ingin Terapkan Color Guide Untuk Kandungan Gula di Produk Minuman

“Kekeliruan keadilan adalah pernyataan yang meremehkan untuk menggambarkan hal ini, katanya. Saya berharap, jika hal ini terjadi lagi, Departemen Kehakiman AS diingatkan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti dan malah memilih untuk tidak melakukannya.” Ujar Kuria.

(Reza)

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *