Ancaman virus Nipah muncul dan menyerang di india

Jakarta,MRN – Virus Nipah baru baru ini dilaporkan menyerang India, saat ini para ilmuwan masih terus melakukan analisis terhadap penularan virus Nipah di ke tubuh manusia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!


Wilayah utara Kerala, India, saat ini sedang dihadapkan dengan virus Nipah yang telah menyebabkan dua kematian, seperti diberitakan yang pada 30 Agustus 2023. Pinarayi Vijayan, Ketua Menteri Kerala, telah menyatakan bahwa fasilitas isolasi akan disediakan.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengadakan pertemuan publik di distrik Kozhikode selama sepuluh hari ke depan. Pihak berwenang Kerala juga telah menutup sekolah dan melakukan tes terhadap ratusan orang untuk mencegah penyebaran virus.

Ancaman virus Nipah muncul dan menyerang di india

Ahli epidemiologi Dicky Budiman telah menyebutkan potensi virus untuk masuk ke Indonesia, namun mencatat bahwa hal ini relatif menantang dalam konteks Indonesia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi virus Nipah ditularkan dari hewan, seperti babi dan kelelawar, ke manusia. Penyakit ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi atau dari orang yang terinfeksi. Saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk virus Nipah.

Gejala virus Nipah

Seseorang yang telah terjangkit virus Nipah akan mengalami gejala yang beragam dari tanpa gejala (asimptomatis), infeksi saluran napas akut (ISPA) ringan atau berat hingga ensefalitis fatal.

Berikut adalah sejumlah gejala yang bisa dialami seseorang akibat terinfeksi virus nipah:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Muntah
  • Nyeri tenggorokan
  • Mudah mengantuk
  • Penurunan kesadaran

Pada kasus yang berat, ensefalitis dan kejang akan muncul dan dapat berlanjut menjadi koma dalam 24-48 jam hingga kematian.

Masa inkubasi hingga gejala ini muncul yakni berkisar 4-14 hari, bahkan dalam beberapa kasus ada yang sampai 45 hari.

Yang perlu diketahui juga adalah belum ada vaksin untuk menangani virus Nipah.



“Yang penting saat ini belum ada vaksin atau terapi spesifik untuk virus Nipah. Lagi berjalan risetnya,” Dicky Budiman melanjutkan

Baca juga Warga Gunungkidul Meninggal Karena Terpapar Virus Antraks, Puluhan Orang Positif

“Oleh karena itu, butuh literasi ke publik untuk penyakit zoonotik yang kita bahkan perlu banyak tahu dan perlu dicegah. Jadi keharmonisan, keseimbangan kesehatan manusia, hewan, lingkungan diperkuat suveilans dan deteksi, yang ini menjadi kelemahan, PR kita.”

(Kenz)

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *